Rasa-Rasa di Segara Anakan, Pulau Sempu


8 Oktober 2011… Saat itu hari sedang Sabtu dan hari ini juga suatu tekad harus dipenuhi oleh kami yang telah lelah jiwa dan fisik. Mencari ketenangan untuk sejenak menikmati alam sembari melepas penat yang tak tertahankan.

Rencana. Sebelumnya sudah terencana, namun ada saja rencana yang tak bisa terpenuhi. Berawal dari 8 orang hingga pada harinya menjadi hanya 3 orang saja! (ayolah yang benar saja..!). Berita itu ku ketahui-karena aku yang bertugas mengumpulkan personil-pada malam hari sebelum hari keberangkatan dan pada saat itu juga aku dan satu temanku yang pasti ikut-Khoirul Anwar-tengah mempersiapkan peralatan untuk esok, mengecek tenda dan peralatan masak.

Lalu keraguan sempat muncul, mengingat tinggal 1 orang yang akan menjadi penentu keyakinan kami untuk tetap berangkat atau tinggal. “Kalau kurang dari 4 orang gk usah berangkat yo bud” ujarnya kepadaku dengan sedikit berwajah muram. Kemudian aku lesu, dan menghela nafas besar. Hhhh…

Namun dengan untaian kata ku dan sedikit sugesti kepadanya merubah pernyataannya tadi. “Oke, Budal” kata itulah yang mewakili semua, bahwa no matter what.. Budal!! (Red, Berangkat)

Leganya, aku bakalan feel ashame sekali kepada seseorang jika perjalanan ini tak bisa terwujud. 

 

Dan rencana nya-lagi lagi rencana- kita berangkat di hari Jum’at, 7 Oktober 2011 tapi apa daya hal ini tak bisa dilakukan dengan keadaan Nurica Verty Ayu-temanku lagi yang pasti ikut dalam trip ini- yang masih harus masuk kerja praktek esoknya hingga ia berjanji-tepatnya pukul 12 ia datang ke rumah ku-pukul 11 pada hari sabtu dia akan ada di sana (rumah ku)

Esok akhirnya datang, aku berdoa agar perjalanan nanti lancar.

Dan semua logistik telah kupersiapkan, peralatan² masak, baju hangat dan perlengkapan lainnya yang mungkin diperlukan hingga tas  ku terlihat penuh sesak. kuharap cukup.

Setelah membeli jerigen yang kira² bermuatan 100 liter lebih, aku dan khoirul kembali ke basecamp (rumahku) dan bertemu ayu yang sudah ada di dalam rumahku padahal rumahku saat itu kosong dan ku kunci. hahaha

Setelah sholat dhuhur dan mempersiapkan perlengkapan terakhir, kami bertiga berdoa bersama sebelum akhirnya menyalakan mesin motor dan berangkat!!! Pukul 12.20 WIB meninggalkan rumah dan singgah di trotoar jalan untuk makan siang, membeli nasi kucing!! Dan tepat 12.30 motor kami pacu lagi, waktu itu sepeda motor yang digunakan sebanyak 2 motor, ,milik si Ayu dan milik si khoirul. Aku membonceng ayu yang notabene satu²nya cewek dalam kelompok sambil ia yang membawa jerigen dan khoirul sendirian ditemani tas karier di punggungnya.

Perjalanan kami sungguh panjang, dan rasanya jalanan yang kami lewati tak ada habisnya. Dan benar² bisa membuat pantat kami panas – terbakar rasanya, hahaha “Gak kuat bud…!” protes ayu waktu itu, tapi perjalanan sungguh masih panjang. 80 kiloan meter lagi harus kami tempuh saat kami menjumpai papan arah Sendang Biru, rasanya sudah senang melihat itu walau memang jam demi jam harus kami bunuh.

Melewati daerah Gadang… kemudian Turen.. dan akhirnya masuk wilayah Sumbermanjing yang jalannya bikin aku nyasak ketela pohon (pohong) yang sedang dijemur–tapi untung aku gak sampek membuat ketela² yang sedang asyik berjemur itu tumpah dan berserakan kemana² atau bahkan kocar-kacir sehingga membuat sang empunya pohong marah². Syukurlah, sang empunya ketela malah mengingatkan agar “ojo banter-banter le jalane gak enak” dengan nada yang ramah.. Jalanan di wilayah ini naik-turun.. aduh!

Insiden itu membuat jarak ku dengan khoirul yang melaju di depan menjadi jauh tak terlihat. Sehingga dia sempat berbalik arah menyusulku. Insiden itu juga yang membuat kaki bagian belakang tepatnya di bagian atas dari mata kaki ku sobek, dan mengeluarkan darah segerrrr… mantab.. Kubalut deh dengan bandana warna kuningku.. lalu lanjutkan perjalanan yang akan segera berakhir.

Ya benar saja, kira-kira 15 menit kemudian setelah insiden itu kami melihat laut! namun nggak tercium bau garem sebelum sampai –seperti pikiran ayu, yang berpikir kalau kita akan mencium baru garam saat mendekati laut! Hahaha.

Sampailah kami di kawasan wisata Pantai Sendang Biru yang menjadi awal ke Pulau Sempu, sebelumnya kami harus membayar biaya masuk 20ribu untuk 2 buah motor. Lalu memarkir motor yang memang melayani parker 24 jam! 10ribu harus dibayar untuk 24jam penitipan motor.

Setelah kami beribadah shalat ashar di mushollah sendang biru kami berunding. Agak pesimis untuk bisa menyebrang ke Pulau itu karena jam sudah bergerak di 17.20 WIB-sore yang berubah sendu-dan mengingat perkataan tukang parkir tadi yang mengatakan “jam segini kemungkinan tak ada ijin untuk menyebrang, hari akan menjadi gelap” ya kemungkinan.. masih mungkin… Lalu kami tekadkan lagi dengan telah menyusun rencana kalau memang sore ini tidak ada kesempatan, kemudian aku dan khoirul berangkat ke pos perijinan sementara ayu tinggal di musollah sambil menjaga perlengkapan kami. Sebelumnya kami mencoba untuk “bareng” dengan kelompok yang sudah dapat ijin, tapi nihil. Mereka tak mau ambil resiko. Dan sore benar-benar akan habis sebentar lagi.

Benar saja kata tukang parkir itu-seperti mereka telah sekongkol, pikirku-tak ada ijin, lebih tepatnya petugas ragu memberikannya.”Hari sudah terlalu sore, kalian akan bertemu gelap saat berlabuh” katanya.Beresiko, jalanan sungguh tak mudah, banyak hewan-hewan liar, dan bla..bla..bla.. semua katanya berisi keraguan. Tapi kami ikut menyanggah dengan bantuan 2 kelompok baru yang kemudian datang, meminta ijin. Ya, iya pak, iya, oke, itu kata-kata akhir dari debat kami. Petugas mengijinkan dengan untaian nasihat di belakang nya. Setelah mencatat identitas dan membayar registrasi, kertas berisi ijin kami telah khoirul pegang. Dan Alhamdulillah kami diajak gabung di kelompok mas yuda-salah satu dari 2 kelompok tadi-dari malang. Tapi dia masih harus menunggu 7 temannya yang masih belum sampai.

Hingga shalat maghrib usai kami laksanakan teman-teman mas yuda sudah berkumpul. Lantas aku mengisi penuh jerigen dengan air sumber di musollah. Penuh dan berat jadinya.

Gelap sudah membentang, bulan perlahan merayap di angkasa. Indah..

Lalu kami ber 11 orang pergi ke pantai, menemui pemilik kapal yang telah sepakat menyeberangkan kami dengan 150ribu(karena sudah gelap, selain itu 100ribu) untuk Pergi-Pulang, Pak Yitno begitu ia di panggil. Mesin kapal dinyalakan, penumpang sudah siap. Kira-kira 10menit yang harus kami nikmati di atas kapal, memandang indahnya bulan, serta gelapnya laut.

Usai mencatat nomor hape Pak yitno *wow* kami menginjakkan kaki di Sempu ya, Pulau Sempu dan tujuan utama adalah Segara anakan. Setelah berpesan “Sms aja pak yit teluk semut gitu sudah cukup kok, nanti bapak jemput” Pak Yit lalu menyalakan mesin dan menghilang dari pandangan kami.

Dan kami langsung berjalan, memasuki hutan yang sungguh gelap. Senter kami siapkan, para mas-mas meraih walkie talkie nya agar tetap bisa berkomunikasi karena kami berjalan beriringan. Ayu satu-satunya cewek di kelompok ini! Keren, menembus hutan..

Sesekali aku mendengar suara kemeresek di kanan-kiri ku, seperti ular yang bergerak begitu cepat.. set sat set! Menggesek dedaunan kering sehingga menimbulkan suara. “Sudah biarin” ujar salah satu mas.

Yang ku bisa hanya berdoa saja dalam hati, sambil yakin selalu dikasih selamet oleh Nya.

Beban (jerigen) yang awalnya ku bawa sendiri kini harus kubagi dengan mas yang ku lupa namanya. Hehehe. Dengan bantuan suatu kayu kami membaginya. Baik sekali, mengingat aku sungguh susah payah membawanya sendiri di jalanan hutan yang terjal penuh karang dan gelap yang selalu hadir. Ku pikir aku akan langsung sampai di segara anakan begitu aku mendarat, ternyata ini harus ku tempuh dahulu.

 

Perjalanan menjadi dua jam-an sebelum kami benar-benar sampai di segara anakan karena kami kedatangan kelompok lain yang mengaku telah tersesat Jumlah mereka banyak! Terlebih ceweknya, itu yang membuat lama. Namun makin seru, Saturday Night jalan-jalan di hutan rame-rame ditemani bulan yang terlihat dari tempat kami berjalan. Hahaha

Mendirikan tenda, membuat minuman hangat, menikmati dinginnya Pulau sempu! Hahaha, menjadi rasa baru bagiku yang belum pernah mengalaminya. Mas-mas tadi tak punya tenda, hanya menggelar tikar dan jas hujan sebagai alas dan mulai menikmati malam berkencan dengan suara ombak.. keramaian pengunjung.. dan dinginnya laut. Ya, beberapa dari mereka sempat berenang malam ini.Dan aku mulai terlelap, lelah men! Membawa jerigen besar itu.. sungguh peluh berserakan liar di tubuhku waktu itu.

 

Aku kemudian terbangun di 9 Oktober, jam 3 pagi… disambut dengan tawaran kopi oleh mas rofiq.

Dan…. Langit gelap yang bertaburan bintang!! Subhanallah… Bagus, keren, Indah… tak henti-hentinya kupandang bintang-bintang itu dari tenda, sambil berbaring. Beberapa dari mereka berjatuhan!!! Subhanallah.. cepat sekali..

Hingga menit-demi menit berlalu, bintang-bintang makin menghilang.. menjauh.. Sungguh perasaan senang yang baru.

Pagi lalu tergelar, cahaya matahari sudah menghias di angkasa. Mewarnai permadani biru Sang Penguasa. Hari ini kami harus mengakhiri ini, kembali ke Sendang Biru. Tapi masih ada kesempatan untuk bercengkerama dengan mas-mas yang baik hati, tertawa, sarapan, berenang, hingga berdiri di atas karang dan memandang lautan lepas. Indah rasanya… Tak perlu ditanya lagi berapa banyak gambar yang kami ambil, hehehe.

Photobucket Photobucket

Photobucket Photobucket

Sempat tak nyaman dengan teriakan dari seorang pengunjung yang terlalu lebai sampai berteriak-teriak seperti orang gila. Ckckckck Gila akan keindahan. Prihatin…

Mas-mas yang kami temui ini asli dari Kalimantan, satu dari mereka-mas yuda-adalah orang pedalaman, yang dekat dengan alam.. yang akrab dengan kemandirian dan kebijaksanaan.. Mereka ber 9, satu asrama dan satu perguruan tinggi di Malang. Panggilannya Rofiq, Adam, Okto, Alis (karena alisnya tebal), ada juga mas Yuda, dan sisanya tak bisa ku ingat-ingat namanya, hehehe. Baik hati sekali, ramah, konyol, lucu, bikin tiap perjalanan tak membosankan dan melelahkan. Malah jadi Seru!

Photobucket Photobucket

Beruntung kami bertiga bertemu mereka, apa jadinya kalau tiga orang yang tak pernah mengenal sempu nekad dengan bekal berdoa mencoba mencapai segara anakan? Belum terpikir..

Photobucket Photobucket

Aku berharap ini menjadi langkah pertamaku untuk memulai petualangan ku.. perjalanan tanpa kenal lelah.. perjalanan yang hebat! Menikmati alam, mengagumi keindahan dan ciptaan Nya. Sungguh rasa yang luar biasa!

Photobucket
Photobucket Photobucket

Photobucket

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s