Riwayat HARRY POTTER


Mungkinkah Harry Potter Tewas?

Akankah kita mengucapkan selama tinggal pada Harry Potter? J.K. Rowling merencanakan tujuh jilid dalam serial tentang penyihir muda ini. Tahun ini kita telah menyaksikan terbitnya buku keenam. Tinggal satu buku lagi, yang diperkirakan terbit antara tahun 2007 dan 2009.

Nah, betulkah riwayat “anak laki-laki yang bertahan hidup” ini akan berakhir? Bila mengingat popularitasnya, mungkinkah serial ini “tutup buku” setelah jilid ketujuh? Dan agar benar-benar “the end”, tegakah Rowling mematikan sang protagonis? Kita akan menelaah kemungkinan itu setelah terlebih dulu menelusuri ulang kisah penyihir berkacamata ini sejak buku pertama.

(Peringatan: Seluruh sinopsis berikut ini mengandung bocoran plot dan akhir cerita).

Harry Potter and the
Sorcerer’s Stone

(Harry Potter dan Batu Bertuah)
Harry Potter, seorang anak yatim piatu, hidup tersiksa dengan pamannya sekeluarga. Namun, menjelang ulang tahun kesebelas, hidupnya berubah. Ia menerima surat untuk masuk ke Hogwarts, sekolah sihir yang dipimpin Albus Dumbledore.

Ternyata ia keturunan penyihir. Orang tuanya, Lily dan James Potter, telah tewas di tangan penyihir jahat Lord Voldermort. Atas pengorbanan ibunya, mantra maut Avada Kedavra yang diarahkan pada Harry terpental kembali kepada Voldermort. Tanpa disadari, hal itu juga menjadikan sebagian kekuatan Voldermort beralih ke Harry. Harry mendapatkan parut pada keningnya, sedangkan Voldermort, dalam keadaan luka parah, menghilang. Kasih sang ibu dan kekuatan dari Voldermort tadi memberikan perlindungan khusus bagi Harry dalam hidupnya sebagai penyihir.

Di Hogwarts, Harry ditempatkan di Gryffindor, asrama bagi penyihir pemberani. Ia berkawan dengan Hermione Granger dan Ron Weasley. Adapun rivalnya adalah Draco Malfoy dari asrama Slytherin, tempat para penyihir licik dan ambisius.

Harry, Ron dan Hermione menemukan sebuah pintu yang dijaga anjing berkepala tiga bernama Fluffy. Mereka menduga, Fluffy ditugaskan menjaga Batu Bertuah, yang konon bisa memberikan kehidupan abadi. Semula mereka mengira Severus Snape berusaha mencurinya untuk membantu Lord Voldermort berkuasa kembali.

Bertiga mereka mencoba menggagalkan pencurian itu. Ternyata Profesor Quirrell-lah yang hendak mencuri batu itu. Voldermort selama ini “menumpang” hidup di bagian belakang kepalanya. Dalam pertarungan dengan Harry, Quirrel tewas, dan Voldermort menghilang.

Harry Potter and the Chamber of Secrets

(Harry Potter dan Kamar Rahasia)
Harry diperingatkan oleh Dobby, peri rumah keluarga Lucius Malfoy, bahaya maut mengancamnya bila ia kembali ke Hogwarts. Memang benar, malapetaka mencekam Hogwarts saat Kamar Rahasia terbuka dan makhluk entah apa membuat sejumlah murid membatu.

Menurut legenda, kamar itu dibangun oleh Salazar Slytherin dan hanya bisa dibuka oleh pewarisnya guna membersihkan Hogwarts dari para penyihir berdarah campuran. Kemampuan Harry ber-parseltongue membuatnya dicurigai. Dengan bantuan Ron dan Hermione, ia bertekat membongkar siapa sesungguhnya si pewaris Slytherin ini.

Serangan kian menjadi-jadi, dan Hermione menjadi salah satu korban. Puncaknya, Ginny Weasley disekap di Kamar Rahasia. Ternyata dialah yang selama ini membuka kamar itu. Namun, dia melakukannya bukan atas kemauannya sendiri. Ia dirasuki oleh Voldermort, yang saat bersekolah dulu bernama Tom Riddle. Riddle menanamkan suatu kenangan akan dirinya di dalam sebuah buku harian, yang oleh kelicikan Lucius Malfoy disusupkan di antara buku-buku Ginny. Dengan menyedot kehidupan Ginny, kenangan Tom Riddle ini menjadi kian hidup.

Harry mempertaruhkan nyawanya dengan memasuki Kamar Rahasia untuk menyelamatkan Ginny. Ia berhadapan dengan Basilisk, monster ular raksasa yang selama ini menyerang para murid. Dumbledore mengirimkan Fawkes, si burung phoenix, untuk membantunya, dan Harry berhasil menikam langit-langit mulut si ular dengan pedang warisan pendiri asrama Gryffindor.

Harry Potter and the Prisoner of Azkaban

(Harry Potter dan Tawanan Azkaban)
Setelah menggelembungkan Bibi Marge, Harry melarikan diri dari rumah keluarga Dursley. Ia telah melanggar larangan untuk tidak menggunakan sihir di luar Hogwarts. Anehnya, ketika ditemukan oleh Kementerian Sihir, ia tidak dihukum.

Rupanya, seorang tawanan bernama Sirius Black baru saja meloloskan diri dari Azkaban, penjara mengerikan di dunia sihir, dan diperkirakan tengah mengincar Harry. Hogwarts sendiri secara khusus dijaga oleh para Dementor, makhluk penghisap kebahagiaan, guna mencegah kedatangan Black. Nantinya Harry mengetahui, Black memiliki pertautan misterius dengan orang tuanya dan kematian mereka di tangan Voldermort.

Praduganya keliru. Black sebenarnya tidak bersalah. Penjahat sesungguhnya adalah Peter Pettigrew, yang mengkhianati orang tua Harry, lalu berpura-pura mati. Ia sebenarnya seorang animagus, dan selama dua belas tahun terakhir menyamar sebagai tikus Ron, Scabbers.

Pettigrew berhasil lolos dan kementerian sihir tidak mempercayai cerita Harry, Ron dan Hermione. Namun, Dumbledore mempercayai mereka, dan menyelinapkan Sirius untuk melarikan diri dengan naik hippogriff.

Harry Potter and the Goblet of Fire

(Harry Potter dan Piala Api)
Buku keempat ini menandakan peralihan Harry dari seorang anak menjadi seorang pemuda, memperkenalkannya pada dunia yang lebih luas, baik secara fisik maupun secara nonfisik.

Ia menonton Piala Dunia Quidditch, yang menjadi onar gara-gara ulah Pelahap Maut. Di sekolah, kejutan sudah menanti. Guru baru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam adalah Mad-Eye Moody, penyihir eksentrik namun amat cerdas.

Selain itu, Turnamen Triwizard kembali digelar, diikuti tiga sekolah sihir. Nama calon peserta dimasukkan ke dalam Piala Api yang berfungsi seperti Topi Seleksi. Setelah memunculkan nama Viktor Krum dari Durmstrang, Fleur Delacour dari Beauxbatons, dan Cedric Diggory dari Hogwarts, piala ini masih memunculkan satu nama lagi: Harry Potter – padahal ia belum cukup umur untuk mengikuti turnamen ini dan wakil Hogwarts juga sudah terpilih.

Dalam turnamen itu, peserta diwajibkan menyelesaikan tiga tugas. Untuk tugas ketiga, mereka harus menerobos maze yang penuh dengan makhluk berbahaya. Harry dan Cedric tiba di podium Piala Triwizard paling awal, dan mereka memutuskan untuk meraih piala itu bersama-sama – toh Hogwarts juga yang menang.

Piala itu ternyata Portkey yang secara ajaib memindahkan mereka ke sebuah kuburan. Di sana telah menanti Peter Pettigrew dan Lord Voldermort. Peter membunuh Cedric, lalu menggunakan darah Harry untuk membangkitkan kembali Voldermort. Kini lebih perkasa, Voldermort memanggil para Pelahap Maut dan berusaha membunuh Harry. Namun, karena tongkat sihir Harry dan Voldermort memiliki inti yang sama, yaitu bulu Fawkes, terjadilah fenomena Priori Incantatem yang memungkinkan Harry lolos sambil membawa jenasah Cedric kembali ke Hogwarts.

Moody mengaku sebagai Pelahap Maut dan menjelaskan bahwa dialah yang memasukkan nama Harry ke dalam Piala Api dan memastikan Harry berhasil melewati ketiga tantangan, agar dapat diserahkan kepada Voldermort. Setelah diinterogasi oleh Dumbledore, ternyata dia Moody palsu, anak Barty Couch yang menyamar.

Ketika Dumbledore tahu bahwa Voldermort memakai darah Harry untuk bangkit kembali, “Sekejap Harry merasa seperti melihat kilat kemenangan dalam mata Dumbledore.”

Harry Potter and the Order of the Phoenix

(Harry Potter dan Laskar Phoenix)
Orde Phoenix adalah kelompok penyihir di bawah pimpinan Dumbledore yang bertekat untuk melawan Lord Voldermort dan para pengikutnya. Kementerian Sihir, yang tidak percaya akan informasi kebangkitan kembali Voldermort ini, justru menuduh Dumbledore dan Harry sebagai penghasut.

Hogwarts juga diambil alih oleh Kementrian Sihir, dengan ditempatkannya Dolores Umbridge sebagai guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Ia hanya mengajarkan teori, dan melarang murid-murid menggunakan sihir di kelasnya. Kedudukan Umbridge semakin kuat saat diangkat sebagai Inkuisitor Agung, yang berwenang mengawasi para guru dan murid.

Menentang Umbridge, Harry dan teman-temannya belajar mempraktikkan Pertahanan terhadap Ilmu Hitam secara sembunyi-sembunyi. Mereka menyebut diri sebagai Laskar Dumbledore. Selama itu Harry juga beberapa kali mengalami mimpi buruk sampai ia nyaris mencelakakan ayah Ron. Ia curiga kalau pikirannya dikendalikan oleh Voldermort untuk menuruti kemauannya. Dumbledore segera menyuruhnya belajar occlumency pada Snape. Di luar itu, Harry juga direpotkan urusan pacar.

Ketika Laskar Dumbledore ketahuan, Dumbledore mengakui bahwa dirinyalah yang membentuk laskar itu. Dumbledore meninggalkan Hogwarts, dan Umbridge menjadi kepala sekolah.

Kemudian Harry mengalami mimpi buruk lagi, menyaksikan Voldermort menyiksa Sirius Black di Departemen Misteri. Dengan mengelabui Umbridge, Harry dan teman-temannya mendatangi Departemen Misteri, namun mereka justru harus berhadapan dengan para Pelahap Maut. Mereka dijebak! Voldermort bermaksud memanfaatkan Harry untuk mengambil rekaman ramalan tentang mereka berdua yang tersimpan di situ. Datang bantuan dari lima anggota Orde Phoenix. Dalam pertarungan sengit itu Sirius tewas di tangan Bellatrix Lestrange.

Dumbledore muncul dan melucuti para Pelahap Maut, namun Bellatrix lolos. Voldermort muncul pula, berduel dengan Dumbledore. Akhirnya Voldermort terdesak dan menghilang bersama dengan Bellatrix. Kejadian itu disaksikan oleh sejumlah pegawai Kementerian Sihir, termasuk Cornelius Fudge. Kini mereka baru percaya bahwa Voldermort telah kembali.

Dumbledore secara panjang lebar menjelaskan kepada Harry perubahan sikapnya selama ini. Ia juga menjelaskan makna ramalan Trelawney (bahwa salah satu dari mereka, Harry atau Voldermort, harus mati), dan pentingnya Harry tetap tinggal di Privet Drive.

Harry Potter and the Half-Blood Prince

(Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran)
Voldermort dan anteknya mulai beraksi terang-terangan, menimbulkan kekalutan meluas di Inggris. Penjagaan keamanan Hogwarts pun diperketat. Snape akhirnya dipercaya mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, sedangkan guru Ramuan yang baru adalah Horace Slughorn. Dari Slughorn Harry mendapatkan buku teks ramuan milik Pangeran Berdarah Campuran, yang ternyata memuat resep ramuan unggul.

Melalui Pevensie, Dumbledore menunjukkan kepada Harry sejumlah kenangan yang menyingkapkan masa lalu Voldermort, menjelaskan bagaimana ia menjadi sosok yang sedemikian jahat. Dumbledore antara lain menegaskan, jalan cinta-kasih yang ditempuhnya jauh lebih kuat daripada jalan dendam-kekerasan yang dipilih Voldermort.

Menurut perkiraan Dumbledore, Voldermort telah membelah jiwanya menjadi tujuh bagian, dan menyimpan enam di antaranya di dalam Horcruxe. Selama benda sihir ini ada, selama itu pula Voldermort akan bertahan hidup. Dua Horcruxe – buku harian Tom Riddle dan cincin Marvolo Gaunt – sudah hancur, dan kini tinggal empat. Dumbledore mengajak Harry mengambil salah satunya, locket Salazar Slytherin. Karena meminum ramuan yang melindungi locket itu, kondisi Dumbledore menjadi sangat lemah.

Sekembali ke Hogwarts, para Pelahap Maut telah memporak-porandakan sekolah itu. Draco Malfoy yang membuka pintu bagi mereka melalui sebuah lemari ajaib. Draco sendiri mesti menjalankan misinya membunuh Dumbledore, namun ia ragu-ragu. Snape muncul dan membunuh Dumbledore, lalu meninggalkan Hogwarts setelah menyatakan bahwa dirinyalah si Pangeran Berdarah Campuran itu.

Harry mendapati locket itu ternyata palsu; yang asli sudah diambil oleh penyihir misterius berinisial R.A.B. Setelah pemakaman Dumbledore, Harry memutuskan tidak akan kembali ke sekolah, namun akan melanjutkan upaya pencarian dan penghancuran Horcruxe serta menghabisi Voldermort.

Akhir Riwayat Harry Potter

Selama ini J.K. Rowling berulang-ulang menyatakan, tidak akan ada novel Harry Potter lain setelah buku ketujuh. “Tidak akan ada Harry Potter mengalami krisis tengah baya, atau Harry Potter menjadi penyihir tua,” tegasnya.

Pertanyaannya: Bagaimana kira-kira Rowling akan mengakhiri riwayat Potter? Terutama berdasarkan ramalan Trelawney, saya membayangkan tiga kemungkinan.

Pertama, Lord Voldermort berjaya; Harry Potter tewas mengenaskan. Ending begini bisa membuat para Pottermania mengamuk. Rowling jelas-jelas “mengkhianati” nilai-nilai yang dibangunnya selama ini: bahwa “jalan cinta” jauh lebih kuat daripada “jalan dendam”.

Menariknya, ia bisa menyusun serial baru non-Harry Potter yang mungkin tak kalah seru: Dunia di bawah bayang-bayang Pangeran Kegelapan!

Kedua, tentu saja, Potter yang berjaya. Ending yang rasanya dinanti-nantikan para pembaca setia serial ini. Hanya saja, tidakkah jutaan orang lalu akan “menagih” kelanjutan riwayat Harry? The Adult Life of Harry Potter, mungkin? Akankah Rowling menjilat pernyataannya sendiri?

Ketiga, ending yang selesai dan aman: Voldermort tewas, namun, akibat luka yang amat fatal, tak lama kemudian Harry pun menyusul ke alam baka. Dunia sihir meratapi kepergian seorang pahlawan yang telah memulihkan kedamaian. Dan kita pun termangu-mangu: kapan lagi ada fiksi sememikat ini? ***

Sumber: Wikipedia, Di Balik Proses Penulisan Harry Potter (Indra Ismawan), dan novel Harry Potter terjemahan GPU.

— Dimuat di Matabaca, Desember 2005.

Iklan

2 comments on “Riwayat HARRY POTTER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s