Apa Salahku???


Langit malam bertabur seribu bintang. Semilir angin berhembus menembus kegelapan. Menemani Shinta yang sedang menangisi sesuatu, mungkin seseorang. Tak ada yang tahu tangisan Shinta. Kalaupun ada yang tahu, hanya malam yang jadi saksi bisu.
“Wooooahh!!”Anistha menguap
Uapan saudaranya itu membuat Shinta buru-buru mengusap air matanya. Sadar kalau ada seseorang di bangku ayunan, Anistha menghampirinya sambil komat-kamit.”Aku harap bukan kuntilanak, bukan kuntilanak, bukan…”
“Ngapain kamu komat-kamit gak jelas gitu??”tanya Shinta
“Eh!!,kamu Ta!bikin kaget aja!kirain kuntilanak…”celetuk Anistha
“Kuntilanak pale lu!!orang cantik kayak gini dibilang kuntilanak!”
“Kali aja kuntilanaknya pada ngikutin trend jaman sekarang!”
“Udah ah!ngomongin kuntilanaknya!”
“Oke deh..habisnya sih!nggak biasanya kamu sendirian di sini, ada apa sih??pake matanya berair lagi..habis nangus yah??”Anistha penasaran.
“Tapi janji ya, kamu nggak bakalan crita hal ini ke mama sama papa”
“Janji!!”mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya

**********

Di sebuah taman sekolah terlihat dua anak smu yang sedang ngobrol. Wajah Barra tampak murung sehingga Refa yang ada di sampingnya menjadi cemas.
“Hari cerah kayak gini..muka lu kok murung gitu sih??”menatap Barra yang murung.
“Tata..Fa..”lirihnya.
“Emangnya kenapa ama Shinta?”
“Dia..udah hurt my heart..”sedihnya.
“Hah!! disakitin gimana??!”
Barra terdiam sejenak, tak tahu harus memulainya dari mana.
“Ffuihh.”hembusan nafas Barra.
“???!??”
“Dia berhubungan lagi ama cowok brengsek itu..!”
“Maksudmu…Dirra??”
Barra mengangguk.”Kayaknya mereka udah balikan lagi…”
“Belum tetu, siapa tahu mereka cuma temenan doank..!”Refa mencoba menghibur.
“I don’t think so!secara akhir-akhir ini sikap Shinta berubah banget..”
“Berubah gimana maksudmu??”wajah Refa penuh tanya.
“Ya…kayak gitu deh…dia lebih sensitif dari biasanya. Dan udah beberapa kali dia nyia-nyiain kesekpatan dariku..”
“Pusing juga ya kalo gitu…Udah kamu sabar aja dulu…”hibur Refa.
“Kesabaranku udah habis!!”tandas Barra.
“Ya udah kalo gitu..kita have fun aja!!?”
“Gimana caranya??”
“Nanti malam kamu ke rumahku aja…”beranjak dan meninggalkan Barra.”See you!!”
“Eh-eh, mau ke mana!!!?”

**********

Langit sedang bertabur bintang.Bulan bersinar terang menyebabkan sinar bintang meredup membuat sebagaian bintang tak terlihat.
Dari atas balkon, Refa menerawang ke bawah kalau-kalau Barra datang. Dari ujung jalan, Refa melihat cewek yang sedang mengendarai motor.
“Shinta???”gumamnya tak percaya.
Refa memincingkan mata, menerawang kebenaran sosok cewek yang ia tebak. Dia memang Shinta. Refa menyadarinya ketika Shinta memasuki halaman depan rumahnya.
“What the hell!!?aku musti ke bawah nih!”
Sesegera mungkin ia ke bawah. Membukakan pintu rumahnya. Dajn mendapati  Shinta yang tersenyum sumringah ketika melihat Refa.
“Hallo!”sapa Shinta.
“Halo juga!”Refa sedikit bingung.
Refa masih bingung. Menatap Shinta yang bahagia. Namun menurut Refa kebahagiannya palsu. Shinta mencoba menutupi kesedihannya.
“Ehmmm!!”Shinta berdeham.
Lamunan Refa buyar.”Eh…ayo masuk…sampai lupa”
Shinta masuk dan dipersilahkan duduk oleh Refa.
“Silahkan duduk..”
“Makasih…”
Waduhhh!gimana nih?Shinta pake acara ke rumahku lagi…Barra kan habis ini datang juga…bisa gawat nih!!Oh Gosh!help me!!
“Ref..!!??”
“……….”
“Fa!!”
Refa tersadar.”Eh-eh..iya???”
“Lagi mikirin apa???”tanyanya.

“Enggak..aku cuman lagi nebak aja, kamu mau minum apa??”Refa ngeles.
“Air putih aja…”
“Sebentar ya..!”Refa melesat ke dapur.
Refa panik karena Barra sebentar lagi tiba di rumahnya. Sedangkan Shinta masih di sini. Dengan cepat Refa mengangkat gagang telepon, dan menelpon Barra.
“Aduhh angkat dong Ra…”gelisah Refa.
“Tuuuut…tu….t”
“Halloo…Barra??”akhirnya tersambung juga.
“Iya…iya…aku sebentar lagi berangkat kok.Tenag aja…!”terdengar Barra di seberang.
“Bukan…ini gawat banget Ra!”Refa masih panik.
“Maksudmu???”Barra bingung.
“tata..Ra..Tata..”
“Emangnya kenapa ama Tata??”masih bingung.
“Dia lagi ada di sini!trus gimana dong Ra??cepetan cari solusi…!!”
“Hah!!”pekik Barra.”Ya udah kalo gitu aku gak usah ke rumahmu aja..”
“I think so..Trus..aku ngomong apa dunk kalo disuruh nyeritain tentang kamu??”
“Bilang sebisa kamu deh, terserah…!tapi jangan ngomong yang enggak-enggak loh!!!”Barra mewanti-wanti.
“Beress!!oke deh see you!!”
“Bye!!”
“Fuihh!!”lega Refa.Sesegera mungkin ia kembali ke ruang tamu sambil membawa segelas air putih.
“Sori…Nunggu lama ya??”
“Nggak apa-apa..Kamu kok keringetan gitu sih??”
“Oh ini..??aku tadi ngejar-ngejar kecoa ngesot dulu..jadi keringetan gini deh..!”konyol Refa.
Wajah Shinta bingung sekali.”Kecoa ngesot??”
“Udah deh forget it..sekarang kita ngobrol aja..Eh-eh tumben banget kamu ke rumahku??”
“Nggak, aku cuma mau tanya aja.sama mau ngomong ama kamu..”wajahnya berubah sedih.
“Tanya apa??Barra??”sergah Refa.
Tata terhenyak.”Ya bener banget!gimana kamu bisa tahu??”
“Nebak asal-asalan aja”Refa ngeles.
“To The Point aja…ada apa sih ama tuh amak??aku jadi bingung..”
“Dia marah sama kamu..”tandas Refa.
“Sebabnya??aku tanya sebabnya ke dia dia malah jawab ‘masa loe nggak nyadar sih??’ dingin banget kan?”
“Dia marah banget..secara kamu berhubungan lagi sama Dirra…trus ada lagi..kamu udah nyia-nyia’in kesempatan dari Barra, udah berapa kali Barra ngasih kamu kesempatan!tapi kamu sia-siain.Kamunya tetep nggak bisa berubah. Dia kayaknya udah nyerah secara dia nggak bisa ngerubah kamu seperti apa yang dia mau”jelas refa pada Shinta.
Shinta terdiam sejenak. Sebelumnya dia sempat terhenyak mendengar Refa berkata demikian. Perkataan Refa lakana hujaman pedang yang menusuk hatinya.
“Ta..???”
“…………”
“Tata…!kamu kok diem aja sih??”sambil mengkibas-kibaskan kedua tanggannya di depan wajah Shinta.
“Eh, sory tadi aku bengong.Aku nyoba ngerenungin apa yang tadi kamu bilang…”
“Jadi bener……???”Refa memastikan.
“Nggak semuanya yang kamu bilang tuh benar…Barra tuh alah tangkep soal Dirra…”mata Shinta mulai berkaca-kaca.
“Maksudmu…kamu udah putus??”
“Udah dari dulu, malah sebelum aku pacaran ama Barra..”
“Trus maksudnya Barra apa dong??”bingung Refa.
“Gini lho ceritanya…Dirra tuh nembak aku lagi lewat sms…because that aku tuker-tukeran sim card ama Barra secara aku nggak pengen ngedengerin Dirra minta-minta cintaku lagi untuknya. Aku juga sempet ngingetin Barra.’kalo-kalo Dirra ngajakin tawuran ato semacamnya, cuekin aja…’aku bilang gitu ke dia…”Jelasnya sambil menitihkan air mata.
Refa mengangguk-angguk.”Gitu…tapu Barra ngerespon tuh ama ajakannya Dirra..”timpal Refa.
“Oh gosh!udah deh biarin aja..lagian Dirra udah pindah ke Kalimantan.Trus aku musti gimana dong??”pinta Shinta
“Ya kamu rubah aja sikapmu ke dia, menurutku ih kamu temuin aja langsung. Minta ma’af trus minta kesempatan terakhir juga deh…”hibur Refa.
“Oke…Tapi, sikapku yang gimana yang musti aku rubah??Dulu aku juga berusaha ngerubah sikap tapi itu nggak mudah, butuh nenerapa proses buat ngejalaninnya….”aku Shinta.
“Kalo gitu kamu coba lagi aja…misalnya rubah deh sukap pemalasmu, cuek, jutek, ngambekan, dll.”terang Refa.
“Oke!thanks ya…pikiranku jadi kebuka sekarang..Udah larut malam nih..aku pulang dulu ya..see you!bye!”Shinta terburu-buru keluar.
“Senang bisa ngebantu…ati-ati di jalan!”refa tersenyum.
Shinta segera berlalu dari pandangan Refa. Akhirnya dia bisa bernafas lega. Sesungguhnya Refa bingung harus membela siapa. Di satu sisi kasihan pada Barra, satu sisi lagi prihatin dengan keadaan Shinta.Ia tak ingin, Barra dan Shinta menganggapnya sebagai penghalang.

**********

Keadaan sekolah sepi untuk sesaat sebelum bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa-siswi berhambur ke luar kelas untuk menghabiskan waktu istirahatnya dengan aktifitasnya masing-masing.
Refa keluar kelas, sedikit mengantuk karena semalaman memikirkan masalah Barra dan Shinta. Kemudian, ia mengedarkan pandangannya ke beberapa bagian di sekolah. Di suatu tempat ia melihat Barra yang sedang duduk melamun sendiri.
Dengan semangat Refa berjalan menghampiri Barra. tak disangka Refa melihat Shinta dari ujung, berjalan dengan tergesa-gesa. Shinta menuju ke arah Barra. Langkah Refa berhenti seketika. Dengan serius ia memperhatikan kejadian demi kejadian yang terjadi.

**********

lamunan Barra seketika buyar ketika Shinta di hadapannya dan membimbingnya berdiri.
“Barra…maksud kamu apa…memperlakukanku kayak gini?aku butuh penjelasanmu!”pinta Shinta.
“Nggak ada yang perlu dijelasin!!”tegas Barra sembari meninggalkan Shinta perlahan.
“Tunggu!!”Shinta menarik tangan Barra agar tidak pergi.”Please!aku butuh penjelasanmu!aku nggak ngerti, sumpah nggak ngerti salahku tuh apa!?Sedangkan kamu nggak ngasih aku petunjuk!!”nada Shinta mulai meninggi.
Barra terdiam sejenak.Dan mnepis tangan Shinta dari tanggannya.
“Oh, Begitu!ternyata selama ini kamu nggak nyadar juga ya!!!?memang benar, kamu nggak akan bisa berubah walaupun udah kukasih seribu kesempatanpun!kamu nggak bakal bisa!!Aku udah nggak kuat lagi pacaran denganmu!!aku muak dengan alasan-alasanmu selama ini!!muak dengn sikapmu!aku muak!”emosi Barra meledak-ledak melebihi Shinta.Terlihat memang Barra yang sangat dilukai.
“Tolong….please banget, jangan terlalu emosi. Malu diliatin temen-temen”nada Shinta mendadak merendah.
“Kamu malu ya?iya, kamu malu!seharusnya aku yang malu!aku malu karena udah kamu sakitin hatiku!!aku malu pacaran ama orang yang nggak tahu diri!”emosi Barra meledak untuk terakhir kalinya.
Ia menatap wajah Shinta, wajah Shinta yang seakan tidak merasa kalau ia bersalah. tak disangka oleh Barra, ia menitihkan air mata.Dan meninggalkan Shinta setelah beberapa waktu memandangnya.
Dari kejauhan Refa berlari menghampiri Shinta. Shinta masih terdiam dan terpaku saat Refa ada di hadapannya.
“Ta..?Shinta….???kamu nggak apa-apa kan?”
“Fa…aku nggak ngerti apa maunya dia…”lirih Shinta.
“Udah kamu tenangin diri aja dulu….”
Shinta terdiam dan terpaku memandangi kepergian Barra. Dengan spontan Shinta memeluk Refa.tangisnya meledak dalam pelukan Refa.
“Udah……kita ke uks aja yah..kayaknya kamu butuh tempat nagis sepuasnya”ujar Refa.

**********

Di suatu kesempatan, tepatnya saat pulang sekolah. Refa menghampiri Barra yang sedang duduk-duduk bersama beberapa temannya.
“Barra, aku mau ngomong….”Refa menarik tangan Barra agar segera beranjak dari tempat duduknya.
“Ngomong apa sih?kok serius banget”Barra penasaran.
“Nggak usah pura-pura goblok deh!habis kamu apain Shinta sampai nagis-nangis hebat kayak gitu?”ujar Refa.
“Ooo…masalah itu!?sebenernya kamu tuh bela siapa?aku atau dia?!nggak penting tauk mbahas tuh cewek!!”
“Bukan gitu Ra!aku cuman mau mbantu kalian. Aku….”
Barra memotong kalimat Refa.”Oke,oke kamu memang mbantu.Tapi mbantu siapa!?kayaknya kita nggak usah temenan lagi deh….Thanks ya udah jadi temen baikku selama ini…Selamat tinggal..”tandas Barra dan pergi begitu saja.
“Barra!Barra!”panggilan Refa tidak diindahkan oleh Barra.

**********

Esoknya, Refa tidak mendapati Barra dan Shinta di sekolah. Ternyata keduanya tidak masuk sekolah. Refa terkejut ketika mendengar berita ini dari Anistha.
Ketika pulang sekolah, Refa menyempatkan diri pergi ke rumahShinta untuk mengetahui keadaannya. Dengan ditemani Anistha, Refa masuk ke dalam rumah Shinta.
Bau orang sakitpun  tercium ketika Refa masuk. Di tempat tidur terbaring Shinta, kelihatan tak bertenaga. Refa hanya bisa diam, ia takut salah bicara.
Begitu juga dengan Shinta. Dia hanya terdiam dan terpaku. Seperti orang yang sedang depresi, terlihat dari lebam hitam di bagian matanya. Wajahnya tampak pucat pasi. Refapun tak ingin berlama-lama di sana. Ia tak mendengar dengan jelas apa yang Shinta katakan. iapun memutuskan untuk pulang.

**********

Seminggu kemudian, akhirnya Barrra masuk sekolah. Namun, Shinta kelihatannya masih absen. Refa kemudian mencari informasi dari Anistha.
“Anta tunggu!”seru Refa menghampiri Anistha.
“Eh, Refa…Ada perlu apa?”
“Ngomong-ngomong, kenapa Shinta belum masuk sekolah juga?”
“Shinta?Dia masih belum kuat, aku perhatiin Shinta tambah parah deh, sering muntah darah….”jelas Anistha.
“Gitu ya…”
“Yup!ya udah..aku lagi buru-buru nih!”Anistha segera berlalu.
Mendengar jawaban Anistha tadi, Refa pergi untuk menemui Barra. Ia ingin mengatakan apa yang baru ia dengar. Dari ujung ia melihat Barra. Tanpa pikir panjang Refa menghampirinya.
“Barra….!!”panggil Refa.

Langkah Barra berhenti. Ia memandang Refa dengan wajah berkerut.”Ada apa?”
“Aku cuman mau kasih tahu kamu, kalo Shinta lagi sakit dari seminggu kemarin, penyakitnya tambah parah tau nggak!Buat ngomong aja susah, kayaknya dia depresi banget Ra. Ra….please…”
Barra terdiam sejenak. Mendengar itu hatinya laksana dihujam seribu pisau. Memang Barra telah mengantung cinta Shinta begitu lama. Sebetulnya ia juga tersiksa secara bathin.
“Sebelumnya aku minta ma’af ya..atas perlakuanku baru-baru ini, aku emosi banget waktu itu. Ma’afin aku ya..?”Barra khilaf.
“Aku udah ma’afin kamu dari dulu kok. Jadi?”Refa balik bertanya.
“Gimana kalo kita ke rumah Shinta?!”
Setibanya di rumah Shinta, mereka berdua disambut oleh Anistha. Ia berharap Barra bisa mengurangi luka bathin adiknya.
“Shinta belum mendingan?”tanya Barra cemas.
“Belum..udah cepetan masuk sana!biar Refa di sini aja ama aku..”usul Anistha.
Segera Barra masuk ke dalam rumah Shinta. Setelah ia berada di dean pintu kamarnya, Barra berhenti. Berfikir sejenak untuk mencari cara menghadapi Shinta. Iapun membulatkan tekadnya dan mengetuk pimtu.
“Masuk…”suara seorang wanita menyahuti dari dalam kamar.
Barra langsung membuka pintu dan masuk. Di atas tempat tidur terlihat Shinta terbaring lemas tak berdaya yang sedang ditemani ibunya, tepat di samping Shinta.
“Oh, Barra….silahkan duduk…”ujar ibu Shinta.
Barra ikut-ikutan duduk di samping Shinta yang kelihatannya sedang tidur.
“Kalau boleh tahu, Shinta sakit apa ya bu?”tanya Barra lirih.
“Banyak banget hal yang dirasain Shinta. Kata Dokter sih lambungnya luka. Nafasnya juga sesak.Padahal dia nggak pernah separah ini sebelumnya.”terang ibu Shinta.
“Begitu rupanya.Tapi, sekarang sudah agak mendingan kan bu?”Barra memastikan.
“Syukurlah.Tapi, Shinta masih nggak mau makan.Kalau makan musti dipaksa dulu, itupun makannya cuman sedikit.Obatnya juga nggak habis-habis”jelas beliau.”Kalau begitu ibu tinggal ke belakang dulu ya…”Ibu Shinta berlalu. Barra hanya mengangguk.
Barra memandangi wajah Shinta penuh makna.Bathinnya makin tersiksa saat melihatnya tersakiti secara bathin. perlahan mata Barra berkaca-kaca.
Dengan lembut Barra meraih tangan mungil Shinta dan menggenggamnya erat. Seaka ia merasakan luka dalm hati Shinta.Tangannya yang dingin membuat Barra cemas. Ia khawatir ketika denyut nadi Shnta melemah.
“Shinta ma’afin aku ya….”Barra mulai angkat bicara.”Sori uadah mbuat kamu jadi sakit kayak gini..bukan maksud aku kok. Sebenernya aku mau ngerubah sikapmu. Kamu yang cuek, sukanya marah mulu, mbikin masalah terus.Tapi, signalku kurang mbuat kamu sadar. Malah mbuat kamu jadi begini.Moga aja kamu denger ya Ta…..Aku kasih kamu satu kesempatan lagi dan aku juga udah ma’afin kamu kok…”Air mata Barra menetes, tak bisa menahan haru di hatinya.
Tanpa disadarinya, Shinta telah mendengar semua yang dikatakan Barra tadi. Hatinyapun begitu gembira. Perlahan Shinta membuat gerakan.
“Shinta….Shinta….”Barra terlihat gembira ketika melihat Shinta bangun.
“Barra…”lirihnya hampir tak jelas. Shinta perlahan bangkit, dibantu Barra.
Perasaan Shinta sangat gembira. Ia menatap wajah Barra yang penuh air mata. Shinta mengusapnya dari wajah Barra. Spontan Shinta memeluknya dan menagis di sana.
Pelukan Shinta begitu lama. Ia tak sanggup melepas pelukannya dari Barra. Shinta masih kangen. Tak disangka darah keluar dari mulut Shinta. Membasahi baju Barra yang putih.
Pelukan  Shinta mulai meregang. Badannya terasa lemas dan tak bertenaga. Barra bisa merasakan hal itu. Shinta menutup matanya yang tak sanggup terbuka lagi di dunia ini.
“Shinta….Shinta, Shinta!!”seru Barrra saat memandang Shinta.
“……”Shinta tak bergeming.
Perlahan Barra membaringkannya kembali di tempat tidur. Dan berlari ke belakang menuju Ibu Shinta.
Tak lama kemudian beliau datang dengan gelisah. Sesegera mungkin beliau menelpon Ambulans unutk membawa Shinta ke rumah sakit.

**********

Langit sore berwarna kelabu. Bertebar gumpalan awan yang berarak. Menyelimuti bumi yang fana ini. Dewa angin hanya bisa mengirimkan sang Bayu untuk yang berduka di bumi sana.
Isakan tangis mewarnai pemakaman Shinta. Kepergiannya memberikan luka dalam bagi orang-orang yang menyayanginya. Salah satunya Barra. Semilir angin menerpa Barra. Membuatnya tak kuasa untuk membendung haru. Akhirnya menangis. Kini sayap-sayap cinta Barra telah patah dan berlalu, disapu oleh angin bersama kepergian Shinta. Penyesalan yang dalam bagi Barra.


*********Candra Budi S.
Jl.Kartini No.36 Gedang
Kec. Porong Kab. Sidoarjo-Jawa Timur 61274

Iklan

6 comments on “Apa Salahku???

  1. Everesta Media Data Recovery, a professional data recovery service provider company. Expert in recovering data from corrupted hard disk drives/Read Failur/Fatal BAD Sector Area:Primary / Secondary Master Failure, Knocking Down,Athena,Ares,C64K,N40P,Rumulus,Calypso,IDE,SCSI,USB,SATA,RAID 0-5, any Laptop drives, PowerBook/Macintosh,Flash drives and other media types Support OS.MS Windows (9x,NT,ME,XP,VISTA,2003,2008),LINUX, NOVELL, MACINTOSH,Unix/ SOLARIS Intel /Sparc,SCO Open Server,Etc. Since 1996 in Jakarta ph.021-30954251; 94665701 ; 78887427 (All day 24 hours open)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s